SELAMAT DATANG DI WEBSITE CHORENK

Selasa, 06 Juli 2010

Perjalanan/Pendakian PERJALANAN / PENDAKIAN

Mendaki gunung adalah suatu olah raga keras, penuh petualangan dan membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan serta daya juang yang tinggi. Bahaya dan tantangan merupakan daya tarik dari kegiatan ini. Pada hakekatnya bahaya dan tantangan tersebut adalah untuk menguji kemampuan diri dan untuk bisa menyatu dengan alam. Keberhasilan suatu pendakian yang sukar, berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan melawan diri sendiri.
Di Indonesia, kegiatan mendaki gunung mulai dikenal sejak tahun 1964 ketika pendaki Indonesia dan Jepang melakukan suatu ekspedisi gabungan dan berhasil mencapai puncak Soekarno di pegunungan Jayawijaya, Irian Jaya (sekarang Papua). Mereka adalah Soedarto dan Soegirin dari Indonesia, serta Fred Atabe dari Jepang. Pada tahun yang sama, perkumpulan-perkumpulan pendaki gunung mulai lahir, dimulai dengan berdirinya perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung WANADRI di Bandung dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) di Jakarta, diikuti kemudian oleh perkumpulan-perkumpulan lainnya di berbagai kota di Indonesia.
JENIS PERJALANAN / PENDAKIAN
Mountaineering dalam arti luas adalah suatu perjalanan, mulai dari hill walking sampai dengan ekspedisi pendakian ke puncak-puncak yang tinggi dan sulit dengan memakan waktu yang lama, bahkan sampai berbulan-bulan.
Menurut kegiatan dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering terbagi menjadi tiga bagian :
1. Hill Walking / Fell Walking
Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relatif landai dan yang tidak atau belum membutuhkan peralatan-peralatan khusus yang bersifat teknis.
2. Scrambling
Pendakian pada tebing-tebing batu yang tidak begitu terjal atau relatif landai, kadang-kadang menggunakan tangan untuk keseimbangan. Bagi pemula biasanya dipasang tali untuk pengaman jalur di lintasan.
3. Climbing
Kegiatan pendakian yang membutuhkan penguasaan teknik khusus. Peralatan teknis diperlukan sebagai pengaman. Climbing umumnya tidak memakan waktu lebih dari satu hari.
Bentuk kegiatan climbing ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu :
a. Rock Climbing
Pendakian pada tebing-tebing batu yang membutuhkan teknik pemanjatan dengan menggunakan peralatan khusus.
b. Snow & Ice climbing
Pendakian pada es dan salju.
4. Mountaineering
Merupakan gabungan dari semua bentuk pendakian di atas. Waktunya bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Disamping harus menguasai teknik pendakian dan pengetahuan tentang peralatan pendakian, juga harus menguasai manajemen perjalanan, pengaturan makanan, komunikasi, strategi pendakian, dll.
KLASIFIKASI PENDAKIAN
Tingkat kesulitan yang dimiliki setiap orang berbeda-beda, tergantung dari pengembangan teknik-teknik terbaru. Mereka yang sering berlatih akan memiliki tingkat kesulitan / grade yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang baru berlatih.
Klasifikasi pendakian berdasarkan tingkat kesulitan medan yang dihadapi (berdasarkan Sierra Club) :
Kelas 1 : berjalan tegak, tidak diperlukan perlengkapan kaki khusus (walking).
Kelas 2 : medan agak sulit, sehingga perlengkapan kaki yang memadai dan penggunaan tangan sebagai pembantu keseimbangan sangat dibutuhkan (scrambling).
Kelas 3 : medan semakin sulit, sehingga dibutuhkan teknik pendakian tertentu, tetapi tali pengaman belum diperlukan (climbing).
Kelas 4 : kesulitan bertambah, dibutuhkan tali pengaman dan piton untuk anchor/penambat (exposed climbing).
Kelas 5 : rute yang dilalui sulit, namun peralatan (tali, sling, piton dll), masih berfungsi sebagai alat pengaman (difficult free climbing).
Kelas 6 : tebing tidak lagi memberikan pegangan, celah rongga atau gaya geser yang diperlukan untuk memanjat. Pendakian sepenuhnya bergantung pada peralatan (aid climbing).
SISTEM PENDAKIAN
1. Himalayan System, adalah sistem pendakian yang digunakan untuk perjalanan pendakian panjang, memakan waktu berminggu-minggu. Sistem ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak di pegunungan Himalaya. Kerjasama kelompok dalam sistem ini terbagi dalam beberapa tempat peristirahatan (misalnya : base camp, flying camp, dll). Walaupun hanya satu anggota tim yang berhasil mencapai puncak, sedangkan anggota tim lainnya hanya sampai di tengah perjalanan, pendakian ini bisa dikatakan berhasil.
2. Alpine System, adalah sistem pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen. Tujuannya agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. Sistem ini lebih cepat, karena pendaki tidak perlu kembali ke base camp, perjalanan dilakukan secara bersama-sama dengan cara terus naik dan membuka flying camp sampai ke puncak.
PERSIAPAN BAGI SEORANG PENDAKI GUNUNG
Untuk menjadi seorang pendaki gunung yang baik diperlukan beberapa persyaratan antara lain :
1. Sifat mental.
Seorang pendaki gunung harus tabah dalam menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan di alam terbuka. Tidak mudah putus asa dan berani, dalam arti kata sanggup menghadapi tantangan dan mengatasinya secara bijaksana dan juga berani mengakui keterbatasan kemampuan yang dimiliki.
2. Pengetahuan dan keterampilan
Meliputi pengetahuan tentang medan, cuaca, teknik-teknik pendakian pengetahuan tentang alat pendakian dan sebagainya.
3. Kondisi fisik yang memadai
Mendaki gunung termasuk olah raga yang berat, sehingga memerlukan kondisi fisik yang baik. Berhasil tidaknya suatu pendakian tergantung pada kekuatan fisik. Untuk itu agar kondisi fisik tetap baik dan siap, kita harus selalu berlatih.
4. Etika
Harus kita sadari sepenuhnya bahwa seorang pendaki gunung adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku yang harus kita pegang dengan teguh. Mendaki gunung tanpa memikirkan keselamatan diri bukanlah sikap yang terpuji, selain itu kita juga harus menghargai sikap dan pendapat masyarakat tentang kegiatan mendaki gunung yang selama ini kita lakukan.
(Sumber : Buku Panduan Pedoman Mendaki Gunung & Penjelajahan Rimba/EAT&E EAST 2003)

Senin, 05 Juli 2010

Cara menuntaskan suatu jalur CARA MENUNTASKAN SUATU JALUR

Cara menuntaskan suatu jalur
CARA MENUNTASKAN SUATU JALUR
Banyak pemanjat Indonesia yang masih salah dalam mengartikan gaya menuntaskan suatu jalur pemanjatan bebas (free climbing). Dalam bukunya yang berjudul "How To Rock Climb : Face Climbing", John Long menguraikan dan membuat klasifikasi yang lebih sempit lagi mengenai beberapa gaya yang ada, diantaranya adalah :
On Sight Free Solo
On sight artinya memanjat suatu jalur tanpa pernah mencoba dan juga belum pernah melihat orang lain memanjat di jalur tersebut. Jadi jalur tersebut dipanjat tanpa informasi apa-apa. Biasanya gaya ini dipergunakan pada kompetisi kategori tingkat kesulitan. Sedangkan solo berarti memanjat tanpa tali. Jadi on sight free solo artinya memanjat tanpa tali untuk pertama kali bagi seorang pemanjat tanpa informasi apa-apa.
Free Solo
Pemanjatan suatu jalur tanpa menggunakan tali, tetapi pernah mencoba walaupun belum hafal benar jalur tersebut.
Worked Solo
Hampir sama dengan free solo, tetapi jalur yang dipanjat sudah benar-benar di hafal seluruh bentuk dan permukaan tebingnya.
On Sight Flash atau Vue
Pemanjatan tanpa informasi apa-apa, belum pernah mencoba atau melihat orang lain memanjat di jalur tersebut. Pada gaya ini pemanjat menggunakan tali dan memasang runners di sepanjang jalur, walapun demikian pemanjat tidak boleh jatuh atau beristirahat.
Beta Flash
Pemanjatan menggunakan tali dan pengaman, tanpa mencoba dan melihat orang lain memanjat di jalur tersebut, tetapi sebelumnya telah mendapat informasi tentang jalur dan bagian-bagian sulitnya (crux). Pada gaya ini, pemanjat juga tidak boleh jatuh atau beristirahat.
Deja Vu
Seorang pemanjat sudah pernah memanjat suatu jalur sekian tahun sebelumnya dan gagal menuntaskannya. Setelah sekian tahun itu, dengan kemampuan memanjat yang lebih baik, pemanjat tersebut kembali dengan hanya sedikit ingatan tentang jalur itu dan berhasil menuntaskan jalur pada percobaan pertama.
Red Point
Memanjat suatu jalur yang telah dipelajari dengan sangat baik, tanpa jatuh. Pada gaya ini pemanjat menggunakan tali dan memasang runners di sepanjang jalur.
Pink Point
Sama dengan red point, hanya semua runners / pengaman telah dipasang pada tempatnya.
Brown Point
Ada beberapa macam gaya untuk kategori ini. Misalnya, seorang pemanjat merintis suatu jalur, lalu jatuh dan menarik tali, kemudian meneruskan pemanjatan dari titik pengaman terakhir dia jatuh (hang dogging). Pemanjatan dengan top rope (tali sudah terpasang di atas) juga masuk kategori ini. Lalu ada lagi pemanjatan dengan pengaman / runners pertama yang dipasang terlebih dahulu. Sebenarnya masih banyak lagi gaya lain yang masuk dalam kategori ini.
Dengan mengetahui berbagai gaya pemanjatan, kita dapat membandingkan jalur mana yang lebih sulit dan kemampuan dari masing-masing pemanjat.
(Mamay S. Salim)

Banyak pemanjat Indonesia yang masih salah dalam mengartikan gaya menuntaskan suatu jalur pemanjatan bebas (free climbing). Dalam bukunya yang berjudul "How To Rock Climb : Face Climbing", John Long menguraikan dan membuat klasifikasi yang lebih sempit lagi mengenai beberapa gaya yang ada, diantaranya adalah :
On Sight Free Solo
On sight artinya memanjat suatu jalur tanpa pernah mencoba dan juga belum pernah melihat orang lain memanjat di jalur tersebut. Jadi jalur tersebut dipanjat tanpa informasi apa-apa. Biasanya gaya ini dipergunakan pada kompetisi kategori tingkat kesulitan. Sedangkan solo berarti memanjat tanpa tali. Jadi on sight free solo artinya memanjat tanpa tali untuk pertama kali bagi seorang pemanjat tanpa informasi apa-apa.
Free Solo
Pemanjatan suatu jalur tanpa menggunakan tali, tetapi pernah mencoba walaupun belum hafal benar jalur tersebut.
Worked Solo
Hampir sama dengan free solo, tetapi jalur yang dipanjat sudah benar-benar di hafal seluruh bentuk dan permukaan tebingnya.
On Sight Flash atau Vue
Pemanjatan tanpa informasi apa-apa, belum pernah mencoba atau melihat orang lain memanjat di jalur tersebut. Pada gaya ini pemanjat menggunakan tali dan memasang runners di sepanjang jalur, walapun demikian pemanjat tidak boleh jatuh atau beristirahat.
Beta Flash
Pemanjatan menggunakan tali dan pengaman, tanpa mencoba dan melihat orang lain memanjat di jalur tersebut, tetapi sebelumnya telah mendapat informasi tentang jalur dan bagian-bagian sulitnya (crux). Pada gaya ini, pemanjat juga tidak boleh jatuh atau beristirahat.
Deja Vu
Seorang pemanjat sudah pernah memanjat suatu jalur sekian tahun sebelumnya dan gagal menuntaskannya. Setelah sekian tahun itu, dengan kemampuan memanjat yang lebih baik, pemanjat tersebut kembali dengan hanya sedikit ingatan tentang jalur itu dan berhasil menuntaskan jalur pada percobaan pertama.
Red Point
Memanjat suatu jalur yang telah dipelajari dengan sangat baik, tanpa jatuh. Pada gaya ini pemanjat menggunakan tali dan memasang runners di sepanjang jalur.
Pink Point
Sama dengan red point, hanya semua runners / pengaman telah dipasang pada tempatnya.
Brown Point
Ada beberapa macam gaya untuk kategori ini. Misalnya, seorang pemanjat merintis suatu jalur, lalu jatuh dan menarik tali, kemudian meneruskan pemanjatan dari titik pengaman terakhir dia jatuh (hang dogging). Pemanjatan dengan top rope (tali sudah terpasang di atas) juga masuk kategori ini. Lalu ada lagi pemanjatan dengan pengaman / runners pertama yang dipasang terlebih dahulu. Sebenarnya masih banyak lagi gaya lain yang masuk dalam kategori ini.
Dengan mengetahui berbagai gaya pemanjatan, kita dapat membandingkan jalur mana yang lebih sulit dan kemampuan dari masing-masing pemanjat.
(Mamay S. Salim)