Ketika siang hari di konter NURRIYAH yang hawanya membuat kulit berkeringat, kita berdua menyempatkan menulis sebuah cerita sambil menunggu pelanggan yang biasanya membuat kita lupa atas segalanya dan bingung tanpa arah. Eh tunggu masih ada pelanggan........
Kita menulis cerpen ini tentang kehidupan kita sehari-hari dimana yang selalu di kejar-kejar oleh sang waktu, sehingga waktu 24 jam yang biasa orang kehidupannya normal dalam artian sejahtera mengganggap waktu itu panjang, namun bagi kita berdua waktu 24 jam itu lenyap tanpa terasa bagaikan sesingkat kilapan petir menyambar.
Haaaaaaaaaaah..................... kita beteriak dan ketawa ria selalu kita usahakan meskipun hati dan perasaan selalu dihantui oleh berbagai bentuk aktivitas yang menuntut dan saling meminta untuk dilakukan, Ya maklum kita kan mahasiswa.......haaaaa.............masih adakah orang yng peduli dengan keadaan ini atau adanya sama dengan tidak adanya,,,,,,,,yah tah...............huh kah............ ngocol!!!!!!!
Sebagai mahasiswa Kita berdua harus bisa ambil hikmahnya dimana suatu saat kita harus bisa kreatif sekreatif mungkin untuk menghadapi kehidupan di masyarakat kelak.
Syukur tetap kita panjatkan kepada sang kholik desala-sela waktu yang sangat amat singkat ini.kehidupan ini sudah tidak asing lagi dan terbiasa kami jalani berdua dengan iringan musik, tarian foto copy dan lantunan jemariku.wkwkwkwkwkwk..................
Emang sich kita akui bahwa hidup seorang diri itu sulit, tapi Dengan keadaan ini kita bisa merasakan kenikmatan hidup meskipun penuh dengan halang rintang yang seakan-akan sulit kami lalui namun dengan penuh kesadararan, kesabaran dan semangat yang tinggi untuk mencapai cita dan cinta itu bisa kita hadapi.haaaaaaaaaah.......... capek dech........
Bersambung tunggu episode selanjutnya......
Jember, 13 November 2010
Pukul: 12.44 WIB
cuaca panas tapi hati tetap dingin
Inget kita berdua tidak menerima keluh kesah dari kalian........Haaaaaaaaaah.....
Disampaikan kepada seluruh mahasiswa/i indonesia yang senasib, senasab dan seperjuangan...!!!
Senin, 29 November 2010
Selasa, 12 Oktober 2010
Antara aku dan MAPALA PALMSTAR
Disaat tengah malam hari di kosn CaCiCu dimana suasana sepi hanya ditemani musik, aku sempat menulis tentang aku dan organisasi Mapala PALMSTAR selama yang aku rasakan, aku kira rugi sekali kita berproses di Mapala PALMSTAR tapi kita tidak pernah menuangkan apa yang kita rasakan selama kita berproses,,,,preeeeett,,,,
Bericara kuliah merupakan niat kita sebelum ikut organisasi dan organisasi merupakan penunjang untuk berproses lebih maksimal, ternyata apa yang terjadi selama yang aku jalani????
Sebelum aku masuk Mapala PALMSTAR yang aku lihat Mapala PALMSTAR hanya organisasi yang hedonisme, premanisme dan kuliahnya banyak yang molor, ada yang bilang juga jarang mandi pokoknya negatif terus,,,capek dech!!!
Namun pandangan negatif itu berubah seiring waktu ketika aku bergabung dengan Mapala PALMSTAR ternyata salah apa yang aku pikirkan, Mapala PALMSTAR merupakan organisasi yang solidaritasnya erat dan loyalitas tinggi, itulah yang mengikat aku, bagi aku Mapala PALMSTAR merupakan rumah ke dua dan orang-orangnya merupakan saudara bagiku,,,
Mapala PALMSTAR mempunyai segudang harapan, jaringan 500 lebih anggota yang berguna setelah kamu selesai kuliah, kegiatan di mapala palmstar merupakan menunjang kita untuk menambah pengalaman kita dan itu tidak didapat di bangku kuliah,
Di mapala aku pernah mengikuti lomba karya tulis ilmiah Se-jawa timur, pernah penelitian sosial di luar Jawa yaitu NTB di Lombok Timur, pertemuan Mapala Se-Indonesia, pertemuan angkatan 2006 khusus Mapala Se-Jember, penelitian di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) JEMBER dan banyak lainnya, itu pun murah bahkan gratis. Tanpa aku sadari dari itu yang membuat kita punya loyalitas n solidaritas yang tinggi terhadap Mapala PALMSTAR. Siiiip!!!
Ada lagi pelajaran yang sangat berharga bagiku, aku bisa berkreasi sebebas mungkin untuk menghasilkan sesuatu, belajar berorganisasi, berteman dengan berbagai sifat, kita bisa mengerti sifat dan karakternya masing-maasing sampai belajar mengontrol dan menjaga emosi.
Wow,,,sepertinya semua ini nggak akan aku dapatkan kalo aku bukan bagian dari sekumpulan mahasiswa pecinta alam ini.
Okey,, demikian sebuah cerita tentang aku dan Mapala PALMSTAR pada intinya, organisasi yang penuh dengan orang-orang aneh ini benar-benar memberi seribu pelangi dalam hidupku,,,,
Bravo Mapala PALMSTAR !!!
“Gak ada tingginya gunung dan luasnya samudra yang gak bisa di capai oleh Se-orang MAPALA,,,,”
Bericara kuliah merupakan niat kita sebelum ikut organisasi dan organisasi merupakan penunjang untuk berproses lebih maksimal, ternyata apa yang terjadi selama yang aku jalani????
Sebelum aku masuk Mapala PALMSTAR yang aku lihat Mapala PALMSTAR hanya organisasi yang hedonisme, premanisme dan kuliahnya banyak yang molor, ada yang bilang juga jarang mandi pokoknya negatif terus,,,capek dech!!!
Namun pandangan negatif itu berubah seiring waktu ketika aku bergabung dengan Mapala PALMSTAR ternyata salah apa yang aku pikirkan, Mapala PALMSTAR merupakan organisasi yang solidaritasnya erat dan loyalitas tinggi, itulah yang mengikat aku, bagi aku Mapala PALMSTAR merupakan rumah ke dua dan orang-orangnya merupakan saudara bagiku,,,
Mapala PALMSTAR mempunyai segudang harapan, jaringan 500 lebih anggota yang berguna setelah kamu selesai kuliah, kegiatan di mapala palmstar merupakan menunjang kita untuk menambah pengalaman kita dan itu tidak didapat di bangku kuliah,
Di mapala aku pernah mengikuti lomba karya tulis ilmiah Se-jawa timur, pernah penelitian sosial di luar Jawa yaitu NTB di Lombok Timur, pertemuan Mapala Se-Indonesia, pertemuan angkatan 2006 khusus Mapala Se-Jember, penelitian di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) JEMBER dan banyak lainnya, itu pun murah bahkan gratis. Tanpa aku sadari dari itu yang membuat kita punya loyalitas n solidaritas yang tinggi terhadap Mapala PALMSTAR. Siiiip!!!
Ada lagi pelajaran yang sangat berharga bagiku, aku bisa berkreasi sebebas mungkin untuk menghasilkan sesuatu, belajar berorganisasi, berteman dengan berbagai sifat, kita bisa mengerti sifat dan karakternya masing-maasing sampai belajar mengontrol dan menjaga emosi.
Wow,,,sepertinya semua ini nggak akan aku dapatkan kalo aku bukan bagian dari sekumpulan mahasiswa pecinta alam ini.
Okey,, demikian sebuah cerita tentang aku dan Mapala PALMSTAR pada intinya, organisasi yang penuh dengan orang-orang aneh ini benar-benar memberi seribu pelangi dalam hidupku,,,,
Bravo Mapala PALMSTAR !!!
“Gak ada tingginya gunung dan luasnya samudra yang gak bisa di capai oleh Se-orang MAPALA,,,,”
Minggu, 11 Juli 2010
Selasa, 06 Juli 2010
Perjalanan/Pendakian PERJALANAN / PENDAKIAN
Mendaki gunung adalah suatu olah raga keras, penuh petualangan dan membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan serta daya juang yang tinggi. Bahaya dan tantangan merupakan daya tarik dari kegiatan ini. Pada hakekatnya bahaya dan tantangan tersebut adalah untuk menguji kemampuan diri dan untuk bisa menyatu dengan alam. Keberhasilan suatu pendakian yang sukar, berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan melawan diri sendiri.
Di Indonesia, kegiatan mendaki gunung mulai dikenal sejak tahun 1964 ketika pendaki Indonesia dan Jepang melakukan suatu ekspedisi gabungan dan berhasil mencapai puncak Soekarno di pegunungan Jayawijaya, Irian Jaya (sekarang Papua). Mereka adalah Soedarto dan Soegirin dari Indonesia, serta Fred Atabe dari Jepang. Pada tahun yang sama, perkumpulan-perkumpulan pendaki gunung mulai lahir, dimulai dengan berdirinya perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung WANADRI di Bandung dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) di Jakarta, diikuti kemudian oleh perkumpulan-perkumpulan lainnya di berbagai kota di Indonesia.
JENIS PERJALANAN / PENDAKIAN
Mountaineering dalam arti luas adalah suatu perjalanan, mulai dari hill walking sampai dengan ekspedisi pendakian ke puncak-puncak yang tinggi dan sulit dengan memakan waktu yang lama, bahkan sampai berbulan-bulan.
Menurut kegiatan dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering terbagi menjadi tiga bagian :
1. Hill Walking / Fell Walking
Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relatif landai dan yang tidak atau belum membutuhkan peralatan-peralatan khusus yang bersifat teknis.
2. Scrambling
Pendakian pada tebing-tebing batu yang tidak begitu terjal atau relatif landai, kadang-kadang menggunakan tangan untuk keseimbangan. Bagi pemula biasanya dipasang tali untuk pengaman jalur di lintasan.
3. Climbing
Kegiatan pendakian yang membutuhkan penguasaan teknik khusus. Peralatan teknis diperlukan sebagai pengaman. Climbing umumnya tidak memakan waktu lebih dari satu hari.
Bentuk kegiatan climbing ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu :
a. Rock Climbing
Pendakian pada tebing-tebing batu yang membutuhkan teknik pemanjatan dengan menggunakan peralatan khusus.
b. Snow & Ice climbing
Pendakian pada es dan salju.
4. Mountaineering
Merupakan gabungan dari semua bentuk pendakian di atas. Waktunya bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Disamping harus menguasai teknik pendakian dan pengetahuan tentang peralatan pendakian, juga harus menguasai manajemen perjalanan, pengaturan makanan, komunikasi, strategi pendakian, dll.
KLASIFIKASI PENDAKIAN
Tingkat kesulitan yang dimiliki setiap orang berbeda-beda, tergantung dari pengembangan teknik-teknik terbaru. Mereka yang sering berlatih akan memiliki tingkat kesulitan / grade yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang baru berlatih.
Klasifikasi pendakian berdasarkan tingkat kesulitan medan yang dihadapi (berdasarkan Sierra Club) :
Kelas 1 : berjalan tegak, tidak diperlukan perlengkapan kaki khusus (walking).
Kelas 2 : medan agak sulit, sehingga perlengkapan kaki yang memadai dan penggunaan tangan sebagai pembantu keseimbangan sangat dibutuhkan (scrambling).
Kelas 3 : medan semakin sulit, sehingga dibutuhkan teknik pendakian tertentu, tetapi tali pengaman belum diperlukan (climbing).
Kelas 4 : kesulitan bertambah, dibutuhkan tali pengaman dan piton untuk anchor/penambat (exposed climbing).
Kelas 5 : rute yang dilalui sulit, namun peralatan (tali, sling, piton dll), masih berfungsi sebagai alat pengaman (difficult free climbing).
Kelas 6 : tebing tidak lagi memberikan pegangan, celah rongga atau gaya geser yang diperlukan untuk memanjat. Pendakian sepenuhnya bergantung pada peralatan (aid climbing).
SISTEM PENDAKIAN
1. Himalayan System, adalah sistem pendakian yang digunakan untuk perjalanan pendakian panjang, memakan waktu berminggu-minggu. Sistem ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak di pegunungan Himalaya. Kerjasama kelompok dalam sistem ini terbagi dalam beberapa tempat peristirahatan (misalnya : base camp, flying camp, dll). Walaupun hanya satu anggota tim yang berhasil mencapai puncak, sedangkan anggota tim lainnya hanya sampai di tengah perjalanan, pendakian ini bisa dikatakan berhasil.
2. Alpine System, adalah sistem pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen. Tujuannya agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. Sistem ini lebih cepat, karena pendaki tidak perlu kembali ke base camp, perjalanan dilakukan secara bersama-sama dengan cara terus naik dan membuka flying camp sampai ke puncak.
PERSIAPAN BAGI SEORANG PENDAKI GUNUNG
Untuk menjadi seorang pendaki gunung yang baik diperlukan beberapa persyaratan antara lain :
1. Sifat mental.
Seorang pendaki gunung harus tabah dalam menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan di alam terbuka. Tidak mudah putus asa dan berani, dalam arti kata sanggup menghadapi tantangan dan mengatasinya secara bijaksana dan juga berani mengakui keterbatasan kemampuan yang dimiliki.
2. Pengetahuan dan keterampilan
Meliputi pengetahuan tentang medan, cuaca, teknik-teknik pendakian pengetahuan tentang alat pendakian dan sebagainya.
3. Kondisi fisik yang memadai
Mendaki gunung termasuk olah raga yang berat, sehingga memerlukan kondisi fisik yang baik. Berhasil tidaknya suatu pendakian tergantung pada kekuatan fisik. Untuk itu agar kondisi fisik tetap baik dan siap, kita harus selalu berlatih.
4. Etika
Harus kita sadari sepenuhnya bahwa seorang pendaki gunung adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku yang harus kita pegang dengan teguh. Mendaki gunung tanpa memikirkan keselamatan diri bukanlah sikap yang terpuji, selain itu kita juga harus menghargai sikap dan pendapat masyarakat tentang kegiatan mendaki gunung yang selama ini kita lakukan.
(Sumber : Buku Panduan Pedoman Mendaki Gunung & Penjelajahan Rimba/EAT&E EAST 2003)
Di Indonesia, kegiatan mendaki gunung mulai dikenal sejak tahun 1964 ketika pendaki Indonesia dan Jepang melakukan suatu ekspedisi gabungan dan berhasil mencapai puncak Soekarno di pegunungan Jayawijaya, Irian Jaya (sekarang Papua). Mereka adalah Soedarto dan Soegirin dari Indonesia, serta Fred Atabe dari Jepang. Pada tahun yang sama, perkumpulan-perkumpulan pendaki gunung mulai lahir, dimulai dengan berdirinya perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung WANADRI di Bandung dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) di Jakarta, diikuti kemudian oleh perkumpulan-perkumpulan lainnya di berbagai kota di Indonesia.
JENIS PERJALANAN / PENDAKIAN
Mountaineering dalam arti luas adalah suatu perjalanan, mulai dari hill walking sampai dengan ekspedisi pendakian ke puncak-puncak yang tinggi dan sulit dengan memakan waktu yang lama, bahkan sampai berbulan-bulan.
Menurut kegiatan dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering terbagi menjadi tiga bagian :
1. Hill Walking / Fell Walking
Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relatif landai dan yang tidak atau belum membutuhkan peralatan-peralatan khusus yang bersifat teknis.
2. Scrambling
Pendakian pada tebing-tebing batu yang tidak begitu terjal atau relatif landai, kadang-kadang menggunakan tangan untuk keseimbangan. Bagi pemula biasanya dipasang tali untuk pengaman jalur di lintasan.
3. Climbing
Kegiatan pendakian yang membutuhkan penguasaan teknik khusus. Peralatan teknis diperlukan sebagai pengaman. Climbing umumnya tidak memakan waktu lebih dari satu hari.
Bentuk kegiatan climbing ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu :
a. Rock Climbing
Pendakian pada tebing-tebing batu yang membutuhkan teknik pemanjatan dengan menggunakan peralatan khusus.
b. Snow & Ice climbing
Pendakian pada es dan salju.
4. Mountaineering
Merupakan gabungan dari semua bentuk pendakian di atas. Waktunya bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Disamping harus menguasai teknik pendakian dan pengetahuan tentang peralatan pendakian, juga harus menguasai manajemen perjalanan, pengaturan makanan, komunikasi, strategi pendakian, dll.
KLASIFIKASI PENDAKIAN
Tingkat kesulitan yang dimiliki setiap orang berbeda-beda, tergantung dari pengembangan teknik-teknik terbaru. Mereka yang sering berlatih akan memiliki tingkat kesulitan / grade yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang baru berlatih.
Klasifikasi pendakian berdasarkan tingkat kesulitan medan yang dihadapi (berdasarkan Sierra Club) :
Kelas 1 : berjalan tegak, tidak diperlukan perlengkapan kaki khusus (walking).
Kelas 2 : medan agak sulit, sehingga perlengkapan kaki yang memadai dan penggunaan tangan sebagai pembantu keseimbangan sangat dibutuhkan (scrambling).
Kelas 3 : medan semakin sulit, sehingga dibutuhkan teknik pendakian tertentu, tetapi tali pengaman belum diperlukan (climbing).
Kelas 4 : kesulitan bertambah, dibutuhkan tali pengaman dan piton untuk anchor/penambat (exposed climbing).
Kelas 5 : rute yang dilalui sulit, namun peralatan (tali, sling, piton dll), masih berfungsi sebagai alat pengaman (difficult free climbing).
Kelas 6 : tebing tidak lagi memberikan pegangan, celah rongga atau gaya geser yang diperlukan untuk memanjat. Pendakian sepenuhnya bergantung pada peralatan (aid climbing).
SISTEM PENDAKIAN
1. Himalayan System, adalah sistem pendakian yang digunakan untuk perjalanan pendakian panjang, memakan waktu berminggu-minggu. Sistem ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak di pegunungan Himalaya. Kerjasama kelompok dalam sistem ini terbagi dalam beberapa tempat peristirahatan (misalnya : base camp, flying camp, dll). Walaupun hanya satu anggota tim yang berhasil mencapai puncak, sedangkan anggota tim lainnya hanya sampai di tengah perjalanan, pendakian ini bisa dikatakan berhasil.
2. Alpine System, adalah sistem pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen. Tujuannya agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. Sistem ini lebih cepat, karena pendaki tidak perlu kembali ke base camp, perjalanan dilakukan secara bersama-sama dengan cara terus naik dan membuka flying camp sampai ke puncak.
PERSIAPAN BAGI SEORANG PENDAKI GUNUNG
Untuk menjadi seorang pendaki gunung yang baik diperlukan beberapa persyaratan antara lain :
1. Sifat mental.
Seorang pendaki gunung harus tabah dalam menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan di alam terbuka. Tidak mudah putus asa dan berani, dalam arti kata sanggup menghadapi tantangan dan mengatasinya secara bijaksana dan juga berani mengakui keterbatasan kemampuan yang dimiliki.
2. Pengetahuan dan keterampilan
Meliputi pengetahuan tentang medan, cuaca, teknik-teknik pendakian pengetahuan tentang alat pendakian dan sebagainya.
3. Kondisi fisik yang memadai
Mendaki gunung termasuk olah raga yang berat, sehingga memerlukan kondisi fisik yang baik. Berhasil tidaknya suatu pendakian tergantung pada kekuatan fisik. Untuk itu agar kondisi fisik tetap baik dan siap, kita harus selalu berlatih.
4. Etika
Harus kita sadari sepenuhnya bahwa seorang pendaki gunung adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku yang harus kita pegang dengan teguh. Mendaki gunung tanpa memikirkan keselamatan diri bukanlah sikap yang terpuji, selain itu kita juga harus menghargai sikap dan pendapat masyarakat tentang kegiatan mendaki gunung yang selama ini kita lakukan.
(Sumber : Buku Panduan Pedoman Mendaki Gunung & Penjelajahan Rimba/EAT&E EAST 2003)
Senin, 05 Juli 2010
Cara menuntaskan suatu jalur CARA MENUNTASKAN SUATU JALUR
Cara menuntaskan suatu jalur
CARA MENUNTASKAN SUATU JALUR
Banyak pemanjat Indonesia yang masih salah dalam mengartikan gaya menuntaskan suatu jalur pemanjatan bebas (free climbing). Dalam bukunya yang berjudul "How To Rock Climb : Face Climbing", John Long menguraikan dan membuat klasifikasi yang lebih sempit lagi mengenai beberapa gaya yang ada, diantaranya adalah :
On Sight Free Solo
On sight artinya memanjat suatu jalur tanpa pernah mencoba dan juga belum pernah melihat orang lain memanjat di jalur tersebut. Jadi jalur tersebut dipanjat tanpa informasi apa-apa. Biasanya gaya ini dipergunakan pada kompetisi kategori tingkat kesulitan. Sedangkan solo berarti memanjat tanpa tali. Jadi on sight free solo artinya memanjat tanpa tali untuk pertama kali bagi seorang pemanjat tanpa informasi apa-apa.
Free Solo
Pemanjatan suatu jalur tanpa menggunakan tali, tetapi pernah mencoba walaupun belum hafal benar jalur tersebut.
Worked Solo
Hampir sama dengan free solo, tetapi jalur yang dipanjat sudah benar-benar di hafal seluruh bentuk dan permukaan tebingnya.
On Sight Flash atau Vue
Pemanjatan tanpa informasi apa-apa, belum pernah mencoba atau melihat orang lain memanjat di jalur tersebut. Pada gaya ini pemanjat menggunakan tali dan memasang runners di sepanjang jalur, walapun demikian pemanjat tidak boleh jatuh atau beristirahat.
Beta Flash
Pemanjatan menggunakan tali dan pengaman, tanpa mencoba dan melihat orang lain memanjat di jalur tersebut, tetapi sebelumnya telah mendapat informasi tentang jalur dan bagian-bagian sulitnya (crux). Pada gaya ini, pemanjat juga tidak boleh jatuh atau beristirahat.
Deja Vu
Seorang pemanjat sudah pernah memanjat suatu jalur sekian tahun sebelumnya dan gagal menuntaskannya. Setelah sekian tahun itu, dengan kemampuan memanjat yang lebih baik, pemanjat tersebut kembali dengan hanya sedikit ingatan tentang jalur itu dan berhasil menuntaskan jalur pada percobaan pertama.
Red Point
Memanjat suatu jalur yang telah dipelajari dengan sangat baik, tanpa jatuh. Pada gaya ini pemanjat menggunakan tali dan memasang runners di sepanjang jalur.
Pink Point
Sama dengan red point, hanya semua runners / pengaman telah dipasang pada tempatnya.
Brown Point
Ada beberapa macam gaya untuk kategori ini. Misalnya, seorang pemanjat merintis suatu jalur, lalu jatuh dan menarik tali, kemudian meneruskan pemanjatan dari titik pengaman terakhir dia jatuh (hang dogging). Pemanjatan dengan top rope (tali sudah terpasang di atas) juga masuk kategori ini. Lalu ada lagi pemanjatan dengan pengaman / runners pertama yang dipasang terlebih dahulu. Sebenarnya masih banyak lagi gaya lain yang masuk dalam kategori ini.
Dengan mengetahui berbagai gaya pemanjatan, kita dapat membandingkan jalur mana yang lebih sulit dan kemampuan dari masing-masing pemanjat.
(Mamay S. Salim)
Banyak pemanjat Indonesia yang masih salah dalam mengartikan gaya menuntaskan suatu jalur pemanjatan bebas (free climbing). Dalam bukunya yang berjudul "How To Rock Climb : Face Climbing", John Long menguraikan dan membuat klasifikasi yang lebih sempit lagi mengenai beberapa gaya yang ada, diantaranya adalah :
On Sight Free Solo
On sight artinya memanjat suatu jalur tanpa pernah mencoba dan juga belum pernah melihat orang lain memanjat di jalur tersebut. Jadi jalur tersebut dipanjat tanpa informasi apa-apa. Biasanya gaya ini dipergunakan pada kompetisi kategori tingkat kesulitan. Sedangkan solo berarti memanjat tanpa tali. Jadi on sight free solo artinya memanjat tanpa tali untuk pertama kali bagi seorang pemanjat tanpa informasi apa-apa.
Free Solo
Pemanjatan suatu jalur tanpa menggunakan tali, tetapi pernah mencoba walaupun belum hafal benar jalur tersebut.
Worked Solo
Hampir sama dengan free solo, tetapi jalur yang dipanjat sudah benar-benar di hafal seluruh bentuk dan permukaan tebingnya.
On Sight Flash atau Vue
Pemanjatan tanpa informasi apa-apa, belum pernah mencoba atau melihat orang lain memanjat di jalur tersebut. Pada gaya ini pemanjat menggunakan tali dan memasang runners di sepanjang jalur, walapun demikian pemanjat tidak boleh jatuh atau beristirahat.
Beta Flash
Pemanjatan menggunakan tali dan pengaman, tanpa mencoba dan melihat orang lain memanjat di jalur tersebut, tetapi sebelumnya telah mendapat informasi tentang jalur dan bagian-bagian sulitnya (crux). Pada gaya ini, pemanjat juga tidak boleh jatuh atau beristirahat.
Deja Vu
Seorang pemanjat sudah pernah memanjat suatu jalur sekian tahun sebelumnya dan gagal menuntaskannya. Setelah sekian tahun itu, dengan kemampuan memanjat yang lebih baik, pemanjat tersebut kembali dengan hanya sedikit ingatan tentang jalur itu dan berhasil menuntaskan jalur pada percobaan pertama.
Red Point
Memanjat suatu jalur yang telah dipelajari dengan sangat baik, tanpa jatuh. Pada gaya ini pemanjat menggunakan tali dan memasang runners di sepanjang jalur.
Pink Point
Sama dengan red point, hanya semua runners / pengaman telah dipasang pada tempatnya.
Brown Point
Ada beberapa macam gaya untuk kategori ini. Misalnya, seorang pemanjat merintis suatu jalur, lalu jatuh dan menarik tali, kemudian meneruskan pemanjatan dari titik pengaman terakhir dia jatuh (hang dogging). Pemanjatan dengan top rope (tali sudah terpasang di atas) juga masuk kategori ini. Lalu ada lagi pemanjatan dengan pengaman / runners pertama yang dipasang terlebih dahulu. Sebenarnya masih banyak lagi gaya lain yang masuk dalam kategori ini.
Dengan mengetahui berbagai gaya pemanjatan, kita dapat membandingkan jalur mana yang lebih sulit dan kemampuan dari masing-masing pemanjat.
(Mamay S. Salim)
CARA MENUNTASKAN SUATU JALUR
Banyak pemanjat Indonesia yang masih salah dalam mengartikan gaya menuntaskan suatu jalur pemanjatan bebas (free climbing). Dalam bukunya yang berjudul "How To Rock Climb : Face Climbing", John Long menguraikan dan membuat klasifikasi yang lebih sempit lagi mengenai beberapa gaya yang ada, diantaranya adalah :
On Sight Free Solo
On sight artinya memanjat suatu jalur tanpa pernah mencoba dan juga belum pernah melihat orang lain memanjat di jalur tersebut. Jadi jalur tersebut dipanjat tanpa informasi apa-apa. Biasanya gaya ini dipergunakan pada kompetisi kategori tingkat kesulitan. Sedangkan solo berarti memanjat tanpa tali. Jadi on sight free solo artinya memanjat tanpa tali untuk pertama kali bagi seorang pemanjat tanpa informasi apa-apa.
Free Solo
Pemanjatan suatu jalur tanpa menggunakan tali, tetapi pernah mencoba walaupun belum hafal benar jalur tersebut.
Worked Solo
Hampir sama dengan free solo, tetapi jalur yang dipanjat sudah benar-benar di hafal seluruh bentuk dan permukaan tebingnya.
On Sight Flash atau Vue
Pemanjatan tanpa informasi apa-apa, belum pernah mencoba atau melihat orang lain memanjat di jalur tersebut. Pada gaya ini pemanjat menggunakan tali dan memasang runners di sepanjang jalur, walapun demikian pemanjat tidak boleh jatuh atau beristirahat.
Beta Flash
Pemanjatan menggunakan tali dan pengaman, tanpa mencoba dan melihat orang lain memanjat di jalur tersebut, tetapi sebelumnya telah mendapat informasi tentang jalur dan bagian-bagian sulitnya (crux). Pada gaya ini, pemanjat juga tidak boleh jatuh atau beristirahat.
Deja Vu
Seorang pemanjat sudah pernah memanjat suatu jalur sekian tahun sebelumnya dan gagal menuntaskannya. Setelah sekian tahun itu, dengan kemampuan memanjat yang lebih baik, pemanjat tersebut kembali dengan hanya sedikit ingatan tentang jalur itu dan berhasil menuntaskan jalur pada percobaan pertama.
Red Point
Memanjat suatu jalur yang telah dipelajari dengan sangat baik, tanpa jatuh. Pada gaya ini pemanjat menggunakan tali dan memasang runners di sepanjang jalur.
Pink Point
Sama dengan red point, hanya semua runners / pengaman telah dipasang pada tempatnya.
Brown Point
Ada beberapa macam gaya untuk kategori ini. Misalnya, seorang pemanjat merintis suatu jalur, lalu jatuh dan menarik tali, kemudian meneruskan pemanjatan dari titik pengaman terakhir dia jatuh (hang dogging). Pemanjatan dengan top rope (tali sudah terpasang di atas) juga masuk kategori ini. Lalu ada lagi pemanjatan dengan pengaman / runners pertama yang dipasang terlebih dahulu. Sebenarnya masih banyak lagi gaya lain yang masuk dalam kategori ini.
Dengan mengetahui berbagai gaya pemanjatan, kita dapat membandingkan jalur mana yang lebih sulit dan kemampuan dari masing-masing pemanjat.
(Mamay S. Salim)
Banyak pemanjat Indonesia yang masih salah dalam mengartikan gaya menuntaskan suatu jalur pemanjatan bebas (free climbing). Dalam bukunya yang berjudul "How To Rock Climb : Face Climbing", John Long menguraikan dan membuat klasifikasi yang lebih sempit lagi mengenai beberapa gaya yang ada, diantaranya adalah :
On Sight Free Solo
On sight artinya memanjat suatu jalur tanpa pernah mencoba dan juga belum pernah melihat orang lain memanjat di jalur tersebut. Jadi jalur tersebut dipanjat tanpa informasi apa-apa. Biasanya gaya ini dipergunakan pada kompetisi kategori tingkat kesulitan. Sedangkan solo berarti memanjat tanpa tali. Jadi on sight free solo artinya memanjat tanpa tali untuk pertama kali bagi seorang pemanjat tanpa informasi apa-apa.
Free Solo
Pemanjatan suatu jalur tanpa menggunakan tali, tetapi pernah mencoba walaupun belum hafal benar jalur tersebut.
Worked Solo
Hampir sama dengan free solo, tetapi jalur yang dipanjat sudah benar-benar di hafal seluruh bentuk dan permukaan tebingnya.
On Sight Flash atau Vue
Pemanjatan tanpa informasi apa-apa, belum pernah mencoba atau melihat orang lain memanjat di jalur tersebut. Pada gaya ini pemanjat menggunakan tali dan memasang runners di sepanjang jalur, walapun demikian pemanjat tidak boleh jatuh atau beristirahat.
Beta Flash
Pemanjatan menggunakan tali dan pengaman, tanpa mencoba dan melihat orang lain memanjat di jalur tersebut, tetapi sebelumnya telah mendapat informasi tentang jalur dan bagian-bagian sulitnya (crux). Pada gaya ini, pemanjat juga tidak boleh jatuh atau beristirahat.
Deja Vu
Seorang pemanjat sudah pernah memanjat suatu jalur sekian tahun sebelumnya dan gagal menuntaskannya. Setelah sekian tahun itu, dengan kemampuan memanjat yang lebih baik, pemanjat tersebut kembali dengan hanya sedikit ingatan tentang jalur itu dan berhasil menuntaskan jalur pada percobaan pertama.
Red Point
Memanjat suatu jalur yang telah dipelajari dengan sangat baik, tanpa jatuh. Pada gaya ini pemanjat menggunakan tali dan memasang runners di sepanjang jalur.
Pink Point
Sama dengan red point, hanya semua runners / pengaman telah dipasang pada tempatnya.
Brown Point
Ada beberapa macam gaya untuk kategori ini. Misalnya, seorang pemanjat merintis suatu jalur, lalu jatuh dan menarik tali, kemudian meneruskan pemanjatan dari titik pengaman terakhir dia jatuh (hang dogging). Pemanjatan dengan top rope (tali sudah terpasang di atas) juga masuk kategori ini. Lalu ada lagi pemanjatan dengan pengaman / runners pertama yang dipasang terlebih dahulu. Sebenarnya masih banyak lagi gaya lain yang masuk dalam kategori ini.
Dengan mengetahui berbagai gaya pemanjatan, kita dapat membandingkan jalur mana yang lebih sulit dan kemampuan dari masing-masing pemanjat.
(Mamay S. Salim)
Langganan:
Postingan (Atom)